Serupa Namun Berbeda, Perbandingan Alat Musik Kecapi di China, Jepang & Korea

Budaya383 Dilihat

Alat Musik Kecapi – Dalam pandangan geografis, China, Jepang, dan Korea Selatan duduk berdekatan satu sama lain. Pertukaran budaya antara ketiga negara ini terjadi dengan intensitas tinggi. Dalam konteks ini, alat musik khas mereka, kecapi, tampak memiliki keterkaitan.

Meskipun dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya “kecapi,” di masing-masing negara, alat ini memiliki sebutan tersendiri: guzheng di China, koto di Jepang, dan gayageum di Korea.

Pada dasarnya, setiap negara berusaha untuk menciptakan pendekatan unik dalam menghasilkan produk budaya mereka, termasuk dalam alat musik.

Meskipun alat musik kecapi di ketiga negara tersebut memiliki persamaan dalam bahan, senar, dan teknik memainkannya, terdapat pula perbedaan menarik yang perlu diperhatikan. Mari kita telusuri lebih lanjut.

Perbedaan Kecapi China, Jepang & Korea

1. Guzheng (Kecapi China)

Guzheng (Kecapi China)

Guzheng (Kecapi China)

Guzheng memiliki 21 senar terbuat dari logam, lengkap dengan pengganjal yang dapat digeser untuk mengatur frekuensi nada. Nada-nada yang dihasilkan oleh guzheng adalah nada pentatonik, seperti do, re, mi, sol, dan la. Alat musik ini diperbuat dari kayu paulownia.

Guzheng menjadi populer di China sejak Dinasti Qin dan Han, kira-kira 2.000 tahun lalu. Pada awalnya, guzheng hanya memiliki 5 senar, kemudian meningkat menjadi 12 senar pada era tersebut. Pada masa Dinasti Ming dan Qing, jumlah senarnya bertambah menjadi 14-16, hingga akhirnya mencapai 21 senar pada tahun 1970 dan tetap demikian hingga sekarang.

Guzheng dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari-jari yang dilengkapi dengan kuku palsu dari tempurung kura-kura atau plastik. Alat musik ini dimainkan dengan tangan kanan memainkan melodi sementara tangan kiri memainkan akor. Posisi pemain saat memainkan guzheng adalah duduk di kursi pendek dengan lutut tepat di bawah alat musik.

2. Koto (Kecapi Jepang)

Koto Kecapi Jepang (we-xpats)

Koto Kecapi Jepang (we-xpats)

Koto memiliki 13 senar dan juga terbuat dari kayu paulownia. Senar-senarnya terbuat dari sutra. Catatan sejarah mencatat bahwa versi koto dengan 17 senar pernah dibuat oleh Miyagi Michio (1894-1956), tetapi jarang dimainkan oleh musisi koto hingga saat ini. Alat musik tradisional ini biasanya dimainkan secara solo, tanpa iringan nyanyian atau instrumen musik lain.

Baca Juga

Seperti guzheng, koto juga dimainkan dengan jari-jari yang dilengkapi dengan kuku palsu yang disebut tsume. Tsume hanya dipakai pada jari tangan kanan. Pemain koto menggunakan ibu jari dan dua jari pertama tangan kanan untuk memetik senar.

Tangan kiri digunakan untuk mengubah nada dan menghasilkan suara vibrato. Posisi memainkan koto adalah dengan duduk bersila, di mana koto diletakkan di depan pemain. Meskipun demikian, di era modern, koto juga dapat dimainkan dengan duduk di kursi yang didukung oleh penyangga.

3. Gayageum (Kecapi Korea)

Gayageum Kecapi Korea (Wikipedia)

Gayageum Kecapi Korea (Wikipedia)

Gayageum memiliki 12 senar, namun di era modern, gayageum juga memiliki variasi dengan 25 senar. Seperti guzheng dan koto, gayageum juga terbuat dari kayu paulownia. Meskipun awalnya senar gayageum terbuat dari sutra, seiring perubahan zaman, banyak senar yang beralih menggunakan nilon.

Dalam struktur gayageum, terdapat ‘jembatan’ yang berfungsi untuk menopang senar dan mengatur penyetelan serta intonasi. Berbeda dari guzheng dan koto, pemain gayageum memetik senar dengan tangan kosong tanpa kuku palsu.

Pemain gayageum menggunakan tangan kanan untuk memetik dan memainkan senar di sekitar ‘jembatan,’ sementara tangan kiri mendorong senar di sisi kiri ‘jembatan’ untuk mengubah nada dan menambahkan efek vibrato dan ornamen. Suara yang dihasilkan dari gayageum lembut dan halus, serupa dengan ukulele dan tenor.

Posisi bermain gayageum umumnya adalah dengan duduk di lantai, di mana gayageum diletakkan di pangkuan pemain. Meskipun demikian, di era modern, gayageum juga dapat dimainkan dengan duduk di kursi dengan bantuan penyangga.

Dalam perbandingan ini, meskipun alat musik kecapi dari China, Jepang, dan Korea memiliki beberapa kesamaan, mereka juga memiliki keunikan masing-masing dalam teknik memainkannya, jumlah senar, serta posisi bermainnya. Keberagaman ini merefleksikan keragaman budaya dan kreativitas masing-masing negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *